728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 25 Mei 2015

Menghidupkan Kebudayaan Tepian Sungai, Mengenang Kejayaan Leluhur

KAYUAGUNG RADIO - Ada yang berbeda kini di Pelataran Pasar Kodomongan Kayuagung. Pasar yang selama ini sepi aktivitas jual beli kini disulap menjadi panggung musik. Sebuah panggung kecil dan beberapa tenda dididirikan. Sejumlah anak muda terlihat piawai memainkan alat musik dan berdendang diikuti warga yang hadir. Hiburan ini  menjadi daya tarik tersendiri di kawasan pasar kodomongan kelurahan Kota Raya Kayuaugung, setiap Sabtu malam.
Lokasi itu kini menjadi tempat favorit baru masyarakat Kota Kayuagung. Setiap malam Sabtu di lokasi tersebut dilakukan pertunjukan live musik juga atraksi kebudayaan, lokasi ini menjadi tempat alternatif warga  yang ingin menikmati suasana pinggiran sungai Komering . Terlebih lagi saat akhir pekan. 
Dikatakan Yose Rizal Budayawan Kayugung, Dahulunya Kedomongan merupakan tempat pertemuan para raja pada malam hari dengan jamuan makan sembari menikmati pemandangan tepi sungai pada zaman kerajaan dahulu.
Jika mengenang ratusan tahun lalu, Betapa dekat kehidupan masyarakat Kayuagung  dengan sungai. Sungai sudah menjadi bagian kehidupan mereka bahkan sejak dulu kala sungai adalah moda transfortasi utama. Membawa tembikar dari dusun Kayuagung asli dengan biduk kajang sampai ke hilir sungai Musi untuk ditukar dengan bahan makanan pokok di pasar 16 Palembang. Kemudian dijual lagi di pasar kodomongan.
Keakraban masyarakat Kayugung dengan sungai masih tergambar hingga kini. Permukiman dan rumah-rumah tradisional orang Kayuagung yang menghadap sungai dan aktivitas kehidupan mereka di tepian Sungai Komering.
Permukiman tradisional masyarakat Kayuagung dan sebagian besar Ogan Komering Ilir  dapat ditemui di daerah yang dilewati oleh sungai besar maupun kecil, seperti di sepanjang Komering dengan anak cabangnya seperti di Kecamatan  Sirah Pulau Padang, Pedamaran, Pampangan hingga Tulung Selapan yang bermuara di Selat Bangka.  
Begitu banyaknya sungai yang mengaliri kawasan Ogan Komering Ilir, sehingga menjadikan sungai menjadi berperan terhadap kehidupan masyarakat OKI  khususnya dan Sumatera Selatan umumnya. Karena sungai berperan menjadi wahana lintas transportasi dan perhubungan antara daerah pedalaman dengan daerah tepian sungai dan pesisir pantai.  Melalui sungai pula terbentuk interaksi-interaksi antara manusia yang aneka ragam suku, agama, budaya dan latar ekonomi.  Interaksi antara manusia demikian, pada gilirannya membentuk hubungan-hubungan yang bersifat ekonomi, sosial-budaya, dan politik.
Dari sungailah interaksi manusia terbangun yang menghasilkan budaya sungai atau kebudayaan masyarakat yang dipengaruhi oleh lingkungan sungai. Pengertian budaya sungai  meliputi cara hidup, berperilaku, dan adaptasi manusia yang hidup ditepi sungai, hal itu telah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun (Hartatik, 2004).
Keberadaan Sungai Komering bagi masyarakat Kayuagung, khususnya yang tinggal di tepian sepanjang sungai, tidak hanya sebagai tempat arus transportasi atau mobilisasi manusia, namun tempat pemasaran komoditas perdagangan dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, seperti air minum, mandi, dan lain-lain.
Keberadaan pasar terapung di Kodomongan di Kelurahan Jua-Jua Kayuagung. Di sinilah terjadi interaksi antara pedagang dan pembeli dalam bentuk  jual-beli di atas perahu, atau antara penduduk yang tinggal di pinggiran sungai dengan pedagang berperahu. Dapat dikatakan, bahwa keberadaan pasar Kodomongan hanya dapat  ditelaah dari aspek kebudayaan sungai, yang menghasilkan perilaku manusia dalam mengatasi kebutuhan ekonomi, dan disandarkan pada dominasi transportasi perahu di sungai, sehingga membentuk pusat interaksi pembeli dan penjual.
Adanya dominasi transportasi melalui sungai merupakan faktor penentu keberlangsungan pasar ditepian Sungai. Jika dahulu masyarakat kota Kayuagung lekat dengan transportasi sungai, sehingga memunculkan budaya pasar terapung atau banyaknya warga yang menjajakan dagangannya dengan perahu. Akan tetapi, ketika orientasi kegiatan ekonomi  perdagangan berpindah dari sungai  ke daerah daratan, seiring dengan semakin membaiknya lintas tranportasi jalan di sekitar pasar terapung tersebut, maka kini aktivitas pasar terapung di tepian Sungai Komering mulai meredup; tidak seramai dahulu lagi.
Menurut Yose Rizal Budayawan Kayuagung, terbentuknya konsentrasi penduduk dengan pola permukiman berbanjar di sepanjang pinggiran sungai, faktor utamanya adalah sungai. Sungai bagi penduduk yang bermukim di tepian sungai mampu memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup mereka, baik dari aspek transportasi dan mobilitas, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.  Dari konsentrasi penduduk dan interaksinya dengan sungai, maka lahirlah kebudayaan sungai. Kehidupan masyarakat Kayuagung  berkembang di atas sungai yang menjadikan ciri khas dan budaya orang Kayuagung.
Terkait dengan transportasi sungai, sejak dahulu kala orang Kayuagung memiliki dan menguasai teknologi pembuatan perahu dalam berbagai bentuk dan jenis keperluan baik untuk sungai, pantai dan lautan. Kemampuan itu dengan sendirinya menjadikan orang Banjar memiliki tradisi berlayar baik sebagai pelaut, nelayan, dan pedagang.
 Kemampuan memiliki, menguasai teknologi pembuatan perahu dan adanya tradisi berlayar dan berdagang antar pulau dengan perahu tradisional itulah yang menjadikan orang Kayuagung memiliki mobilitas tinggi,  berperahu dari satu daerah ke pulau lain,  menyusuri sungai hingga jauh ke pedalaman, atau bermigrasi  untuk mencari tempat permukiman baru.
Penguasaan teknologi pembuatan perahu tercermin antara lain tercermin dari beragamnya  alat transportasi  sungai yakni Biduk Kajang atau perahu Kajang dalam berbagai jenis maupun fungsinya.
Dalam hal permukiman, bentuk perkampungan di lingkungan sungai selalu berpola linear mengikuti alur sungai tersebut dan rumah-rumah selalu menghadap ke sungai. Di sepanjang sungai Komering bahkan hingga kawasan pantai timur OKI masih ditemui rumah-rumah tua atau bekas-bekas tiang rangka bangunan rumah yang berbanjar menghadap sungai, karena sejak dahulu kala sungai sudah menjadi urat nadi kehidupan. Bahkan sampai sekarang di sepanjang sungai, khususnya Sungai Komering hingga Sungai Lumpur Kecamatan Cengal, masih ditemui rumah-rumah penduduk yang dibangun diatas permukaan air.
Bentuk rumah pada umumnya rumah panggung dengan tiang, lantai, dinding dan atap terbuat dari kayu ulin. Pada permukiman di tepian sungai, antara rumah satu dengan yang lain dihubungkan dengan titian, dan setiap rumah memiliki batang, yaitu sejenis rakit yang ditempatkan di sungai depan rumah yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci, dan jamban (MCK), serta sekaligus tempat menambatkan perahu. Setiap kampung  biasanya memiliki surau atau langgar, pada kampung yang lebih besar terdapat masjid jami untuk sholat Jumat. Selain itu, setiap perkampungan juga mempunai pasar yang terletak pada persimpangan atau bertemunya dua sungai.
Dalam hal kebudayaan, sungai juga memberi pengaruh penting kepada masyarakat Kayuagung. Sungai memberi warna kepada musik, tari-tarian juga lagu-lagu.
Kini anak-anak muda Kayuagung mencoba menghadirkan kembali peradaban tepian sungai Komering melalaui Kodomongan Fest yang dihelat setiap Jum’at malam . Sebuah panggung kecil dan beberapa tenda dididirikan. Pagelaran musik, tari tradisional hingga cerita rakyat yang dibawakan budayawan lokal di hadirkan disini. Hiburan ini menjadi daya tarik tersendiri di kawasan pasar kodomongan kelurahan Kota Raya Kayuagung.
Lokasi itu kini menjadi tempat favorit baru masyarakat Kota Kayuagung. Rencananya setiap malam Sabtu lokasi tersebut akan dilakukan pertunjukan live musik. lokasi ini menjadi tempat alternatif warga yang ingin menikmati suasana pinggiran sungai Komering . Terlebih lagi saat akhir pekan.
“Ya ini sebagai sarana alternatif liburan warga, yang bisa dinikmati semua orang tanpa harus mengeluarkan uang. Terlebih di tempatkan di area strategis tidak jauh dari pemukiman warga,” ungkap Dedy Kurniawan inisiator Kedomongan Fest .
Menurut Dedy, lokasi ini diharapkan menjadi tempat wisata ke depan. Selain dapat digunakan oleh masyarakat untuk beristirahat juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan komunita- komunitas sungai,” tandasnya
Salah seorang warga Kayuagung, Damsir, (24) mengatakan hal serupa. Dia memuji kehadiran area publik tersebut. Menurut dia keberadaan kawasan tersebut menjadi alternatif hiburan bagi warga Kayuagung di akhir pekan. “Menikmati pinggiran sungai sambil menyaksikan live musik. Sangat menarik,”katanya.
Dewan Kesenian Ogan Komering Ilir  sangat mengapresiasi kegiatan seni dengan tajuk Kedomongan Fest.
Ketua Dewan Seni dan Budaya Kab OKI Lindasari Iskandar SE mengatakan dengan diadakannya kegiatan ini selain menggali bakat - bakat seni para seniman - seniman muda di Kab OKI, juga membakitkan kembali nilai -nilai sejarah tentang Kedomongan. Pungkasnya.
Kodomongan Fest selain memberikan hiburan pada masyarakat juga dapat memberikan tempat untuk para seniman musik untuk mengekspresikan hasil karya serta menghadirkan kembali kebudayaan ditepian Sungai Komering.
(diolah dari berbagai Sumber)
1111111
 
 
 
Oleh: Adi Yanto 
Penikmat dan Pecinta  Budaya
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Menghidupkan Kebudayaan Tepian Sungai, Mengenang Kejayaan Leluhur Rating: 5 Reviewed By: Kayuagung Radio