728x90 AdSpace

Latest News
Kamis, 17 Desember 2015

Adat-Istiadat Kematian Dalam Masyarakat Pampangan OKI

Kayuagung - Apabilia ada diantara penduduk/masyarakat yang meninggal, simayit biasanya dimandikan dengan cara dipangku oleh anak, keluarga, atau familinya, selesai dimandikan dan dibungkus seperti biasanya orang meninggal maka simayitpun dishalatkan. Selesai shalat bagi penganut kaum muda (anggota muhammadiyah) cukup takziah ala kadarnya, sedangkan bagi kaum tua (bukan muhammadiyah) membaca surah yasin, berkalimah dan ditutup do’a. Kemudian dilanjutkan dengan bertakziah ala kadarnya, selanjutnya mayit diangkat keluar rumah, bagi kaum tua keranda diletakan dahulu ditanah sambil membaca do’a pertama. Simayit digeser lagi sedikit dan membaca do’a kedua kembali keranda digeser sedikit dan membaca do’a ketiga, selanjutnya terus dibawa ke pemakaman tempat simayit  akan dimakamkan.

Bagi kaum muda selesai mayit ditimbun cukup membaca do’a tiga kali yang dilakukan dengan/dipimpin oleh tiga orang dengan menghadap kiblat. Tetapi bagi kaum tua, dibacakan Talqin, Berkalimah, dan Berdo’a. Habis pembacaan do’a diadakan acara sambutan oleh wakil/keluarga mayit, sebagai ucapan terimah kasih atas ketersediaan hadirin mengantarkan simayit ketempat peristirahatan terakhirnya dan sekaligus mengundang untuk takziah dirumah ahli musibah selama tiga malam berturut-turut. Dirumah tersebut dilakukan shalat berjamaah magrib dan isya, selesai shalat isya diteruskan dengan takziah, bagi kaum muda mengadakan ceramah dan selesainya tidak boleh mengadakan jamuan walaupun hanya berupa air minum saja.

Sedangkan bagi kaum tua, kadang-kadang ceramah dahulu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surah yasin bersama, Berkalimah(Tahlil), dan ditutup dengan do’a. Masalah jamuan terserah dengan ahli musibah, sekurang-kurangnya dijamu dengan air minum saja.

Apabila ahli musibah orang mampu/berada dapat diteruskan dengan tujuh malam berturut-turut (bagi kaum tua) sedangkan bagi yangt tidak mampu cukup sampai tiga malam saja. Takziah dari malam pertama sampai malam ketiga biasanya tamu datang sendiri tanpa diundang, baru pada malam ketujuhnya tamu diundang (untuk kaum tua).

Selain dari hari yang disebutkan diatas, bagi ahli musibah yang mampu pada hari ke-10 diperingati lagi yang disebut dengan Nentang Puluh, kemudian pada hari/malam ke-100 juga diperingati yang disebut Ngeratus. Peringatan-peringatan ini hanya dilakukan oleh kaum tua.



  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Adat-Istiadat Kematian Dalam Masyarakat Pampangan OKI Rating: 5 Reviewed By: Ardiansyah Azka