728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 14 Desember 2015

Sejarah Terbentuknya Dusun Dan Marga Pampangan

Kayuagung - Bahwa desa Pampangan merupakan suatu desa terbentuk menurut urutan kelima dibilangan eks.Marga Pampangan yang dahulunya pernah menjadi ibukota marga yang dikenal dengan marga Pampangan dan selanjutnya sekaligus sebagai ibukota kecamatan Pampangan. 

Sebelum desa pampangan menjadi ibukota marga, ibukota marga berada di dusun kuro, dengan marganya juga bernama marga kuro. Dalam penuturan Riwayat/Historis desa pampangan, langsung atau tidak menyangkut juga Riwayat/Historis desa Kuro atau marga kuro. 

Bahwa menurut catatan yang ada, yang dihubungkan dengan cerita dari orang – orang tua serta disesuaikan dengan kenyataan yang ada, riwayat desa pampangan adalah sebagai berikut : 

Pada zaman dahulukala kerajaan Majapahit yang berkuasa bukan hanya ditanah jawa saja, tetapi juga menguasai daerah seberang, termasuklah daerah Palembang dan sekitarnya. 

Untuk kelancaran roda pemerintahannya, oleh Raja Majapahit diangkatlah seorang Raja di palembang dengan gelar Sultan. Dan tugasnya sampai kedaerah uluan, karena luas daerah kekuasaan sultan, ia tak mampu memerintah langsung keseluruh daerah tersebut, maka daerah kekuasaannya tersebut dibagi – bagi, setiap bagian ditugaskan seorang pembantu. Dari sekian banyak pembantunya, tersebutlah seorang yang bernama RADEN WIRATAKO yang diperintahkan kedaerah uluan mengudiki kali padang. Pada pertemuan (muara) kali padang dengan batang hari pampangan Raden wiratako menetap ditempat tersebut, kemudian menjadi sebuah dusun. 

Beberapa hari kemudian tatkala Raden wiratako dan istrinya Bariah serta pengikutnya melihat seekor binatang yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh mereka, yaitu kura - kura yang berwarna kuning keemasan, terasa adanya suatu keajaiban bagi Raden wiratako. Setelah bermufakat dengan seluruh pengikutnya maka oleh raden Wiratako tempat dimana mereka menetap itu dinamakannya dusun Kuro. 

Pada waktu berdirinya dusun kuro, penduduknya hanya berjumlah lebih kurang 95 orang. Luas daerah mulai dari lebak Kayu Aro sampai di seberang dusun Tanjung Kerang. Perbatasan tersebut dinamakan TUGUARANG. 

Oleh karena Raden Wiratako sudah menetap di dusun Kuro, maka sering kali sultan Palembang datang melihat dari dekat keadaan daerah kekuasaannya itu, seperti kebiasaan kalau sultan kedaerah – daerah maka kedatangannya kedusun Kuro, inipun dikawal oleh para pengiringnya dengan memakai perahu bidar. 

Karena banyaknya jumlah para pengiring sultan yang menyertainyya, Raden Wiratako tidak dapat menyediakan tempat dirumahnya. Oleh sebab itu maka didirikan bangsal – bangsal tempat berlabuh bidar dan sekaligus tempat pengiring sultan bermalam disebelah uluh dusun kuro. 

Agar kebersihan bangsal itu dapat terpelihara, maka diangkatlah seorang mandor yang bernama SOHANTAHA dan istrinya bernama RIJA dan berumah disamping bangsal tersebut. Makin lama makin banyak orang dusun Kuro membuat rumah didekat rumah mandor bangsal tadi, sehingga kemudian terjadilah sebuah dusun yang diberinama dusun BANGSAL. 

Setelah Raden Wiratako meninggal, ia diganti oleh menantunya yang bernama RADEN WIRO. Selanjutnya setelah raden Wiro meninggal, ia diganti oleh anaknya yang bernama ENTJI KIROM (ENCI KIROM). Pada masa pemerintahan Enci Kirom ini sebutan kepala pemerintahan/pemimpin adalah PATIH, serta disetiap dusun harus dibentuk tua – tua yang digelari KARURA.Kemudian patih Enci Kirom diganti oleh patih MAKMUN yang selanjutnya diganti pula patih KOMAN. 

Dalam masa pemerintahan patih koman, ± tahun 1324, sultan palembang diperangi GOUVERNEMENT BELANDA, waktu terjadi peperangan sultan Palembang tertangkap, lalu dibuang (diasingkan) ke TERNATE (Maluku). 

Sejak waktu itu Palembang beserta uluannya, kekuasaannya di pegang oleh Gouvernement Belanda , yang kemudian banyak mengadakan perubahan – perubahan, antara lain: 

- Sebutan nama patih diganti Depati 

- Sebutan nama karura diganti kerio dan dibantu oleh penggawa 

- Sebutan daerah uluan dirubah menjadi marga 

Dan sekaligus dusun Kuro menjadi ibukota Marga Kuro yang membawahi beberapa buah dusun. Karena patih Koman dipandang oleh Gouvernement belanda sudah tua, lalu diberhentikan dan diganti oleh Depati MUHAMMAD AMIN . Jabatan depati dulunya dipilih oleh rakyat se-marga, tetapi sejak tahun 1925 mulai dipilih oleh kepala – kepala dusun dan Lidraad Marga. Pada waktu pemerintahan depati Muhammad Amin CONTROLEUR berkedudukan di kampung Sungai Aur ( Palembang ) yang memerintah ONDERAFDEELING tanah Kubu dan iliran Banyuasin. 

Setelah Depati Muhammad Amin meninggal, ia digantikan oleh anaknya Depati Zainal Abidin , selanjutnya setelah Depati Zainal Abidin meninggal ia digantikan oleh anaknya Depati Akil. 

Controleur berpindah kedudukannya ke negeri Talang Betutu dan marga kuropun termasuk dalam pegangan controleur talang betutu, pada masa pemerintahan Depati Akil inilah, dibentuk PENGHULU yang mengurus masalah agama islam di Marga Kuro, adapun yang menjadi penghulunya pertama kali, adala Haji Abdul gofor. Setelah Depati Akil meninggal ia diganti oleh Depati Bali, kira – kira satu tahun memerintah Depati Bali lalu berhenti, kemudian jabatannya dipegang oleh Pembarab Manan. 

Ketika memilih Pasirah/Kepala Marga yang baru, terpilihlah Pangeran Pidin , yang pada waktu itu menjabat sebagai Kerio dusun Pampangan, karena usianya sudah lanjut Pangeran Pidin berhenti dan jabatannya dipegang oleh anaknya Depati Suud. Pada masa pemerintahan Depati Suud inilah marga Kuro yang berkedudukan di dusun Kuro di pindahkan kedusun Pampangan, akhirnya marga Kuro berubah namanya menjadi Marga Pampangan. 

Pada waktu itu marga Pampangan termasuk dalam pegangan Controleur Tanjung Raja yang selanjutnya dialihkan pada Controleur Kayuagung pada tahun 1907, yang memerintah Onderafdeeling komering ilir. Pada tahun 1919 Depati Suud mengajukan permohonan berhenti karena usia lanjut dan kemudian jabatan pasirah/kepala marga diganti oleh anaknya Depati Muhammad Jasin. Pada tahun 1922 semasa pemerintahan Muhammad Jasin dibentuk Raad Marga yang diVocrziter oleh pasirah dengan anggota 11 (sebelas) orang kerio dari dusun – dusun dan ditambah empat orang LID. LID dipilih oleh rakyat tiga tahun sekali. 

Pada tahun 1928 Depati Muhammad jasin diberhentikan dari jabatannya dan digantikan oleh Nangning Zamzam yang pada waktu itu sebagai kerio dusun Kuro. Nangning Zamzam kemudian diberi gelar Pangeran. Akhirnya pada tanggal 10 Juli 1969 pangeran Nangning Zamzam meninggal dunia sertelah pangeran Nangning meninggal maka jabatan pasirah/kepala marga pampangan dipegang oleh Jahri Abdurahman yang pada waktu itu sebagai pembarab dusun pampangan sampai tanggal 9 September 1969. Pada tanggal 9 September 1969 jabatan pasirah/kepala marga Pampangan dipegang oleh Amir Hamzah Bin Haji Abdul Hamid, sebagai hasil pemilihan atas dasar peraturan daerah propinsi Sumatera selatan No.2/DPRD-GR SS/1967 tertanggal 7 Oktober 1967 dan selesai masa jabatannya tanggal 4 april 1983, sejak dikeluarkannya/berlakunya SK.Gubernur KDH TK.1 SS No.142/Kpts/111/1983 sebagai pelaksana dari UU. Nomor 5 tahun 1979, tentang pemerintahan Desa. 

Nama – nama Patih/Depati/Pasirah kepala Marga Pampangan 

1. Raden Wiratako Berkedudukan di dusun Kuro 

2. Raden Wiro Berkedudukan di dusun Kuro 

3. Enjik kirom Berkedudukan di dusun Kuro 

4. Patih Makmun Berkedudukan di dusun Kuro 

5. Patih Koman Berkedudukan di dusun Kuro 

6. Depati Muhammad Amin Berkedudukan di dusun Kuro 

7. Depati Zainal Abidin Berkedudukan di dusun Kuro 

8. Depati Akil Berkedudukan di dusun Kuro 

9. Depati Bali Berkedudukan di dusun Kuro 

10. Pembarab Manan Berkedudukan di dusun Kuro 

11. Pangeran Pidin Berkedudukan di dusun Pampangan 

12. Depati H. Suud bin Pidin Berkedudukan di dusun Pampangan 

13. Depati M. Jasin bin H.Suud Berkedudukan di dusun Pampangan 

14. Depati/Pangeran Nangning Zamzam Berkedudukan di dusun Pampangan 

15. Pembarab Jahri Abdurrahman Berkedudukan di dusun Pampangan 

16. Pasirah Amir Hamzah bin H. Abdul Hamid Berkedudukan di dusun Pampangan


Oleh : Rusdiana A Karim

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Sejarah Terbentuknya Dusun Dan Marga Pampangan Rating: 5 Reviewed By: Ardiansyah Azka