Pemerintah Kabupaten OKI Terus Tekan Angka Stanting

Kayuagung - Stunting atau kurangnya tumbuh kembang bayi menjadi permasalahan yang ditangani serius oleh pemerintah kabupaten OKI. Kurangnya asupan gizi serta kesehatan lingkungan yang rendah menjadi penyebabnya naiknya angka stunting.
Untuk itu, pemerintah Kabupaten OKI melaui Dinas Kesehatan OKI telah berupaya menekan angka stunting. Diantaranya ialah mendatangi rumah- rumah warga untuk diberikan pemahaman menganai kesehatan lingkungan, pola hidup sehat maupun gizi. “Kita berupaya jemput bola untuk memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai pentingnya 1000 hari pertama masa kehidupuan. Dengan upaya pemberian gizi yang cukup bagi anak- anak,” ungkap Sekretaris Dinkes OKI, Iwan Setiawan SKm M. Kes didampingi Kasi Kesga dan Gizi, Resi S Skm M.kes, disela- sela kunjungan lapangan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, terkait pembelajaran koloborasi lintas sektor gizi, air minum, sanitasi dan sektor lain di Puskesmas Celikah, kemarin.
Upaya yang dilakukan guna menekan stunting tersebut untuk tahun ini terus digalakan. Setidaknya dari data tahun 2015 lalu hingga 2016 ada penurunan angka stunting di OKI. Yakni dari 34 persen menjadi 32 persen. “Selain itu program pusat dan bantuan dari Wolrd Bank, Unicef dan MCA Indonesia juga membantu dalam upaya menurun angka stunting tersebut,” ungkapnya.


Pihaknya berharap adanya pendampingan ke seluruh puskesmas di OKI, terkait masalaah gizi dan kesehatan lingkungan yang dilakukan dari tim pusat Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI. “Sebelumnya hanya 12 puskemas yang dilakukan pendampingan, kita berharap seluruh puskemas yang ada di OKI sebanyak 31 puskesmas bisa didampingi tahun ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Kristin Darundiah, Kasi Penyehatan Sanitasi Dasar Dirjen Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI mengungkapkan bahwa dalam kunjungan ke OKI guna mencari formula dan strategi khusus dalam upaya menekan stunting. Terutama koloborasi kesehatan lingkungan (kesling) dan gizi. Kesling dianggap penting karena memang masih banyak budaya masyarakat yang kurang memperhatikan lingkungannya. Seperti buang air besar sembarangan di sebuah daerah di NTB yang memilki aturan tertent guna meningkatkan kesehatan lingkungan. Seperti sebelum naik haji harus memiliki naik jamban. Selain itu, di daerah tersebut mengedepankan tuan guru atau ustad untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya kesehatann lingkungan dan hidup bersih. “Kalau BAB sembarangan, maka kotorannya bisa diinjak orang lain sehingga membuat orang tersebut tak bisa beribadah. Jadi walaupun sholatnya kuat kalau membuat perbuatan yang merugikan masyarakat tentu sia- sia,” tukasnya.
Diberdayakan oleh Blogger.