Mahasiswa Tinggalkan Bangku Kuliah, Terjun Langsung Padamkan Karhutla di OKI
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya itu telah sepekan meninggalkan rutinitas kampus demi membantu penanganan karhutla. Hari-harinya kini diisi dengan bangun sebelum matahari terbit, mengikuti apel pagi, kemudian bergerak menembus pekatnya asap menuju lokasi kebakaran. Ponsel yang biasanya digunakan untuk hiburan dan berselancar di media sosial, kini menjadi sarana koordinasi tim serta memantau pergerakan titik api.
Bersama tujuh rekannya, Adi pertama kali diterjunkan ke Desa Sungai Bungin, Kecamatan Pangkalan Lampam. Setelah api berhasil dijinakkan di wilayah tersebut, mereka bergeser ke Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan.
Di kawasan gambut, upaya pemadaman bukan perkara mudah. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar tuntas. Bara dapat bertahan di dalam tanah dan kembali menyala ketika kondisi kering serta angin mendukung.
“Sudah seminggu rutinitasnya begitu terus. Bangun pagi, pemadaman, dan kadang baru kembali ke posko saat hari sudah gelap,” ujar Adi saat ditemui di Posko Induk Karhutla Desa Jungkal, Minggu (11/10/2026).
Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi tempat para relawan beristirahat setelah seharian berjibaku dengan api. Di tempat itu, mereka menumpang tidur, mengeringkan pakaian yang basah oleh keringat dan semprotan air, sekaligus memulihkan tenaga untuk kembali bertugas.
Bagi Adi, pengalaman sepekan menghadapi panas, asap, dan beratnya medan memberikan pelajaran kehidupan yang tidak diperoleh di ruang kuliah. Ia belajar tentang kesabaran, kedisiplinan, serta keberanian menghadapi keterbatasan fisik demi membantu sesama.
“Kalau sudah melihat sendiri kondisi di lapangan, kita tahu pekerjaan ini tak bisa dianggap sepele. Kami hanya ingin membantu semampunya agar api tak makin meluas dan warga tak kian menderita,” katanya.
Aksi Nyata di Tengah Riuh Media Sosial
Semangat serupa ditunjukkan Leo, mahasiswa tingkat akhir Universitas Muhammadiyah Palembang. Ia datang ke OKI karena terdorong keprihatinan terhadap bencana karhutla yang terus berulang setiap tahun.
Di tengah ramainya perdebatan dan kritik di media sosial, Leo memilih terjun langsung membantu petugas di lapangan. Baginya, kepedulian tidak cukup hanya disampaikan melalui komentar, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Bagi saya, lebih baik berbuat langsung daripada hanya berkicau nyinyir di media sosial tanpa kontribusi apa pun,” ujar Leo.
“Tidak semua orang harus melakukan hal besar. Kalau punya tenaga dan kesempatan, lakukan yang bisa kita lakukan. Setidaknya kita tak membiarkan orang lain berjuang sendirian,” lanjutnya.
Leo menyadari dirinya tidak mungkin menghentikan karhutla seorang diri. Penanganan kebakaran membutuhkan dukungan logistik yang memadai, peralatan dan sarana pemadaman yang mumpuni, serta kebijakan pencegahan yang konsisten.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan baginya untuk berdiam diri. Ia memilih mengambil bagian sesuai kemampuan, membantu perjuangan para petugas yang berupaya mencegah api meluas dan dampak asap semakin dirasakan masyarakat.
Menjaga Stamina Para Petugas
Kehadiran para relawan di Desa Jungkal turut mendapat perhatian Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki. Keduanya bahkan memilih menginap di posko karhutla untuk merasakan langsung suasana di lapangan bersama personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Karang Taruna, dan relawan mahasiswa.
Kehadiran kepala daerah tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap perjuangan para petugas yang menghadapi medan berat, panas, dan kepungan asap. Penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan strategi pemadaman, tetapi juga pengelolaan personel agar tetap sehat dan mampu menjalankan tugas dengan aman.
Herman Deru menginstruksikan jajaran pemerintahan agar memastikan pasokan makanan tersedia tepat waktu, layanan kesehatan dapat diakses, serta pergantian sif petugas dilaksanakan secara disiplin.
“Soal makan dan pergantian sif harus benar-benar diperhatikan. Saya sangat respek dan berterima kasih kepada adik-adik sekalian. Kalian adalah pahlawan yang melindungi masyarakat dari api dan asap,” tegas Herman.
Dukungan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan logistik, penyediaan perlengkapan keselamatan yang layak, serta waktu istirahat yang cukup. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko kelelahan yang dapat membahayakan keselamatan personel saat bertugas di wilayah kebakaran.
Pengabdian yang Membekas
Ketika titik api berhasil dipadamkan dan asap mulai menipis, Adi akan kembali ke kampus di Indralaya untuk menuntaskan pendidikan hukumnya. Sementara itu, Leo akan kembali ke Palembang untuk melanjutkan penyusunan skripsi.
Namun, pengalaman mereka di Desa Jungkal akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup masing-masing. Mereka menyaksikan langsung kerja keras para petugas yang kerap luput dari perhatian, sekaligus memahami bahwa keberhasilan pemadaman bergantung pada koordinasi dan kerja sama banyak pihak.
Penanganan karhutla pun tidak bisa berhenti pada pemadaman api yang sedang berkobar. Upaya berkelanjutan diperlukan melalui pelaporan dini, pengawasan kawasan rawan kebakaran, kesiapsiagaan personel, serta peningkatan kesadaran masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Adi dan Leo bukanlah sosok yang kebal terhadap lelah. Mereka juga memiliki kewajiban akademik dan masa depan yang harus diperjuangkan. Namun, di tengah kepungan asap, keduanya memilih menyisihkan waktu dan tenaga untuk membantu masyarakat mendapatkan kembali lingkungan yang aman dan udara yang bersih.
Bagi mereka, kepedulian bukan sekadar kata-kata. Ketika bencana datang dan orang lain membutuhkan bantuan, tindakan nyata menjadi alasan untuk melangkah ke garis depan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar